Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa hampir seluruh produk terlaris di Shopee, TikTok Shop, dan Lazada selalu menampilkan label harga yang dicoret merah dengan tulisan mencolok 'Diskon 50%' atau 'Hemat 70%'? Apakah penjual benar-benar rela memangkas separuh dari keuntungan mereka? Jawabannya tentu tidak. Praktik ini adalah penerapan strategi psikologi harga terapan yang disebut Price Anchoring.
1. Bagaimana Otak Konsumen Merespons 'Anchoring Effect'?
Otak manusia secara alami mengalami bias kognitif: kita menilai murah atau mahalnya suatu barang bukan dari nilai intrinsiknya semata, melainkan dari titik acuan awal (anchor) yang pertama kali kita lihat. Jika Anda langsung memajang baju dengan harga Rp 100.000, pembeli akan berpikir panjang. Namun jika Anda memajang harga normal dicoret Rp 200.000 menjadi Rp 100.000 (Diskon 50%), otak pembeli memproses informasi tersebut sebagai 'peluang emas mendapatkan barang bernilai tinggi dengan separuh harga'.
Harga Coret yang Wajib Ditampilkan = (Harga Bersih yang Diinginkan + Subsidi Voucher Toko) รท (1 - [Persentase Diskon Etalase รท 100])
2. Kombinasi Magic Charm Pricing (Akhiran Angka 9)
Riset ilmiah di bidang perilaku konsumen (consumer psychology) membuktikan bahwa harga dengan akhiran angka 9 (misalnya Rp 99.000 atau Rp 199.900) mampu meningkatkan daya tarik klik dan konversi pembelian secara signifikan dibandingkan harga bulat genap (seperti Rp 100.000 atau Rp 200.000). Efek psikologis left-digit effect membuat konsumen fokus pada angka depan yang terasa jauh lebih terjangkau.